Is B BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar
berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang.
pendidikan memiliki nilai yang strategis dan urgen dalam pembentukan suatu
bangsa. Pendidikan juga dapat dikatakan sebagai suatu upaya untuk menjamin
kelangsungan hidup bangsa tersebut. Sebab lewat pendidikanlah akan diwariskan
nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh bangsa tersebut.
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada setiap individu
disepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara
individu dengan lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi
kapan saja dan dimana saja. Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara
formal seperti di sekolah-sekolah, tidak lain adalah bertujuan untuk
mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek
pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Semua interaksi tersebut dipengaruhi
oleh lingkungan, antara lain terdiri atas peserta didik, pendidik, materi
pembelajaran dan peralatan media pembelajaran. Oleh sebab itu media
pembelajaran merupakan suatu yang mesti ada dan benar-benar di perhatikan,
sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa-apa saja landasan dalam media pembelajaran?
2. Dan apa-apa saja ciri-ciri yang ada dalam media pembelajaran?
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan landasan tentang media pembelajaran
2. Menjelaskan dan memaparkan ciri-ciri media pembelajaran
BAB II PEMBAHASAN
A. Landasan Teoritis Media Pembelajaran
Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan
dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian dan minat si penerima pesan. Di dalam proses penyampaian informasi
ini dengan menggunakan saluran (media) maka komunikan akan menerima
informasi/pesan tersebut melalui kelima panca inderanya (penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecap).
Ada beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran,
antara lain landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
1. Landasan filosofis. Ada
suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil
teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang
manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan
terjadi dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat kemanusiaannya diberi
kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan
kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting
bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru
menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga
diri,motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,
maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses
pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
2. Landasan psikologis. Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses
belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga
sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di
samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna
persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi
hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung
secara efektif. Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang
tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek
yang diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan
pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah
mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinum
konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran, ada
beberapa pendapat.
-
Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya
menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic
representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu
menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut Bruner, hal ini
juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa.
-
Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak
pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang
berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
-
Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa
yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai
pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian
yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang
disajikan dengan simbol.
Salah satu gambaran yang paling banyak digunakan acuan
sebagai landasan teori penggunaan media dalam pembelajaran adalah kerucut pengalaman Dale (Dale’s
Cone of Experience).
Dalam proses pembelajaran, media memiliki kontribusi
dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja
membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai
tambah pada kegiatan pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale diatas
mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang akan diperoleh
oleh peserta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar
yang dapat dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat
abstrak. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan peserta didik dapat
menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan
pesan-pesan dalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan peserta didik
sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai
pesan (decoding).
3. Landasan teknologis. Sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi dan informasi
mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh terhadap
pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap
pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan
tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola tradisional, karena cara ini
tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Hasil
teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam pendidikan. Banyak yang dharapkan
dari alat- alat teknologi pendidikan yang membantu mengatasi berbagai
masalah pendidikan sehingga dapat membantu siswa belajar secara
individual dengan efektif dan efisien.
Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
a. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more
productive). Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara
lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk
menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam
menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan
kegairahan belajar siswa.
b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual
(Can make education more individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat
individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol
guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give
instruction a more scientific base). Artinya perencanaan program pembelajaran
lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian
tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis
instruksional dan pengembangan disaign pembelajaran dilakukan dengan
serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
e. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih
langsung/seketika (Can make learning more immediate). Karena media mengatasi
jurang pemisah antara peserta didik dan sumber belajar, dan mengatasi
keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat
menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak secara langsung.
f. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can
make access to education more equal)[1].
4. Landasan empiris. Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat
interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa
dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan
yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan
karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar
visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media
visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang
memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio,
seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan
menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media
audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan
media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus
mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik
materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
B. Ciri-Ciri Media Pembelajaran
Gerlach dan Ely telah mengungkapkan betapa media pembelajaran sangat
dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar. Pada tahun 1971, mereka telah
mengemukakan bahwa media pembelajaran dalam dunia pendidikan dapat berperan
penting. Media pembelajaran dapat menggantikan peran guru yang tidak
dapat guru lakukan. Media pembelajaran memiliki paling tidak memiliki 3 ciri
penting, yaitu: (1) ciri fiksatif; (2) ciri manipulatif; dan (3) ciri
distributif. Berikut kita bahas secara lebih mendetail satu per satu.
1.
Ciri Fiksatif (Fixative
Property)
Media pembelajaran memiliki kemampuan untuk merekam, menyimpan,
melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Banyak
kejadian-kejadian penting atau objek-objek yang harus dipelajari oleh siswa.
Kejadian-kejadian itu tentu saja sering kali sudah berlalu, misalnya saja
peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di suatu negara. Siswa dapat
mepelajari bagaimana peristiwa atau kejadian-kejadian itu melalui rekaman video
dokumentasi, dan foto-foto. Objek-objek biotik ataupun abiotik yang unik dan
harus dipelajari oleh siswa dapat dihadirkan dengan gampang diruang kelas dengan
rekaman video atau foto. Peristiwa dan objek-objek pembelajaran dengan demikian
dapat dihadirkan setiap waktu jika dikehendaki.
2.
Ciri Manipulatif (Manipulative
Property)
Kejadian yang berlangsung berhari-hari bahkan bertahun-tahun dapat
disajikan dalam waktu beberapa menit saja. Banyak peristiwa atau objek yang
sulit diamati secara langsung dengan mudah diamati melalui media pembelajaran
berupa rekaman video dan foto. Bayangkan, siswa dapat mempelajari bagaimana
proses pertumbuhan dan perkembangan embrio di dalam kandungan ibu hanya dalam
waktu 10 sampai 15 menit. Proses ini aslinya berlangsung selama 9 bulan di
dalam tubuh ibu. Dengan bantuan teknologi khusus dan proses perekaman yang
kemudian dilakukan manipulasi, waktu dapat dipersingkat dengan mempercepat
dengan hanya menampilkan kejadian-kejadian penting saja. Selain itu, bahkan
proses dapat diputar balik dan diulang-ulang. Kejadian yang berlangsung cepat
juga dapat diperlambat. Teknologi telah menjadikan media pembelajaran mempunyai
peranan yang amat penting untuk memberikan pemahaman akan suatu peristiwa atau
objek bagi siswa. Manipulasi kejadian atau objek dengan jalan mengedit hasil
rekaman dapat menghemat waktu. [2]
3.
Ciri Distributif (Distributive
Property)
Dengan penggunaan media
pembelajaran, kejadian atau objek pada suatu tempat dapat disebarkan ke tempat
lain dengan mudahnya. Rekaman film dan foto, pada era digital sekarang dengan
sangat mudah didistribusikan tanpa terkendala ruang dan waktu. Kejadian di daerah-daerah
yang sulit atau bahkan tidak mungkin dikunjungi oleh siswa dapat dihadirkan di
ruang kelas mereka tanpa memerlukan banyak usaha keras. Penggunaan internet
atau perangkat penyimpan data seperti flashdisk, CD, dan sebagainya memudahkan
bahan-bahan pembelajaran tersebut didistribusikan. Konsistensi informasi yang
terdapat didalamnya akan selalu terjaga sebagaimana aslinya.[3]
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
-
Media adalah segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima,
sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat si penerima
pesan.
-
Ada beberapa tinjauan
tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain landasan filosofis,
psikologis, teknologis, dan empiris. Landasan filosofis, Landasan psikologis,
Landasan teknologis, Landasan empiris
-
Ciri-Ciri Media
Pembelajaran: Ciri Fiksatif (Fixative Property), Ciri Manipulatif (Manipulative
Property), Ciri Distributif (Distributive Property.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
-
Azhar Arsyad,2011, Media
Pembelajaran,(Jakarta : Raja Gravindo Persada)
[1]
http://syifajulia.blogspot.com/2012/04/landasan-penggunaan-media-pembelajaran.html,
22 maret 2015, jam 17.00 wib
[2]
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran,(Jakarta : Raja Gravindo Persada,
2011), hal. 14
[3]
http://aripristiantonugroho.blogspot.com/2014/03/pengertian-landasan-teoritis-dan-ciri_10.html,
di upload 18 maret 2015, jam 19.05 wib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silakan berikan kritikan dan saran yang membangun